Catatan Terhadap Pendapat Yang Mewajibkan Berqurban

Selasa, 23 Oktober 2012 - 21:58:38 WIB
Diposting oleh : htv | Kategori: One Stop | Dibaca: 690 kali
Qurban

Ada sejumlah dalil yang dijadikan dasar pendapat yang mewajibkan berqurban. Berikut ini pemaparan dalil-dalil tersebut sekaligus ulasannya.

Pertama; orang yang mampu berqurban tapi tidak berqurban dilarang Rasulullah SAW untuk mendekati tempat Shalat Nabi dan kaum Muslimin. Ahmad meriwayatkan;

Telah menceritakan kepada kami Abu Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ayyasy dari Abdurrahman bin Hurmuz Al A'raj dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah shallallahu alaihi wasallam Bersabda: "Barangsiapa mendapatkan kelapangan dalam rizki namun tidak mau berqurban maka janganlah sekali-kali mendekati tempat Shalat kami." (H.R. Ahmad)

Dari Hadis ini difahami; Rasulullah SAW melarang mendekati tempat Shalat, yakni ikut Shalat Ied bersama Nabi padahal Shalat Ied adalah amal kebaikan. Hal ini menjadi dalil bahwa perintah berqurban adalah perintah yang tegas, sehingga hukumnya wajib, bukan sekedar Sunnah. Apalagi jika memahami bahwa Shalat Ied hukumnya wajib dengan bukti Shalat Ied bisa menggugurkan Shalat Jum’at. Dilarangnya untuk menjalankan kewajiban menunjukkan merealisasikan syarat untuk menjalankan kewajiban itu hukumnya juga wajib. Suatu kewajiban yang tidak sempurna pelaksanaannya kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib pula.

Jawaban argumentasi ini adalah sebagai berikut;

Menurut Syu'aib Arna-uth, Hadis di atas sanadnya Dhoif karena faktor seorang perawi yang bernama Abdullah bin Ayyasy yang dinilai sebagai perawi yang dhoif. Penilaian Al-Albani yang menghasankan Hadis ini dalam Takhrij Musykilatu Al-Faqr dinilai sebuah kesalahan oleh Syu'aib Arna-uth.

Kalaupun bisa dijadikan sebagai Hujjah, maka statusnya tidak melampaui status sebagai Hadis Mauquf sebagaimana pernyataan ibnu Hajar. Hadis Mauquf, tentu belum bisa menajadi dalil dalam pembahasan hukum Syara’. Ibnu Hajar mengatakan;

Hadis "Barangsiapa mendapatkan kelapangan dalam rizki namun tidak mau berqurban maka janganlah sekali-kali mendekati tempat Shalat kami" diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ahmad. Perawi-perawinya Tsiqoh namun diperselisihkan apakah Marfu' ataukah Mauquf. Status Mauquf lebih dekat dengan kebenaran sebagaimana dinyatakan At-Thohawy dan selainnya (Fathu Al-Bary, vol 10, hlm 3)

Bahkan seandainyapun bisa dipakai sebagai Hujjah dalam kapasitasnya sebagai Hadis Shahih/Hasan yang dihukumi Marfu'pun, lafadz yang melarang mendekati tempat Shalat masih belum kuat difahami sebagai Qorinah/indikasi untuk menunjukkan kewajiban berqurban. Hal itu dikarenakan tidak ada lafadz lugas yang menunjukkan kewajiban melakukan berqurban sebagaimana dalam Nash-Nash lain ada perintah yang semakna dengannya dari segi kekuatan perintah/larangan namun status hukum finalnya bukan wajib atau Haram. Sebagai contoh misalnya, Rasulullah SAW memerintahkan mandi Jum’at dan menyatakannya dengan lafadz yang mengesankan seakan-akan mandi Jum’at hukumnya wajib. Ahmad meriwayatkan;

Dari Abu Sa'id Al Khudri ia berkata; Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Mandi pada hari Jum’at hukumnya wajib bagi setiap orang yang telah mimpi basah (akil baligh)." (H.R.Ahmad)

Dalam Hadis ini mandi Jum’at diperintahkan dengan pernyataan yang mengesankan bahwa hal itu adalah keharusan. Namun Nash-Nash yang lain menunjukkan bahwa mandi Jum’at bisa ditinggalkan tanpa celaan dari Rasulullah SAW. Karena itu Jumhur ulama memahami bahwa Hadis ini tidak lebih menunjukkan Ta'kidul Istihbab (tekanan) anjuran sehingga status mandi Jum’at adalah Sunnah muakkadah, bukan wajib.

Demikian pula dalam kasus memakan bawang putih. Rasulullah SAW pernah melarang orang yang memakan bawang putih untuk mendekati masjid Rasulullah. Bukhari meriwayatkan;

Dari Ibnu Umar radliallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda saat terjadinya perang Khaibar: "Barangsiapa memakan dari pohon ini, yaitu bawang putih, maka jangan sekali-kali dia mendekati masjid kami." (H.R.Bukhari)

Larangan mendekati masjid dalam Hadis ini tidak bermakna haramnya orang memakan bawang putih, namun hanya bermakna ketidaksukaan terhadap bau bawang putih tersebut yang mengganggu Jamaah. Dari Hadis ini bisa difahami bahwa larangan mendekati masjid belumlah cukup menjadi Qorinah haram/wajibnya sesuatu.

Lagipula hukum Shalat Ied adalah Sunnah, bukan wajib. Ketentuan bahwa Shalat Ied bisa membuat Shalat Jum'at boleh tidak dilaksanakan jika jatuh di hari Jum'at tidak menunjukkan wajibnya Shalat Ied, kerena kebolehan tidak melakukan Shalat Jum'at tersebut adalah Rukhshoh bagi Arab Badui agar tidak dua kali datang ke Madinah untuk melakukan Shalat Ied dan Shalat Jum'at dalam satu hari. Lagi pula safar juga membuat musafir boleh tidak melakukan Shalat Jum'at, namun hal ini tidak menunjukkan safar hukumnya wajib.

Oleh kerana itu sejauh-jauh yang mungkin difahami terkait hukum berqurban yang memakai riwayat ini dan yang semakna dengannya adalah adanya unsur Ta'kidul Istihbab (tekanan anjuran) dalam perintah berqurban, sehingga hukum berqurban bukan sekedar Sunnah tetapi Sunnah Muakkadah, namun tidak sampai wajib.

Kedua; Ada riwayat yang mengharuskan tiap rumah berqurban tiap tahun. Ahmad meriwayatkan;

Dari Abu Ramlah ia berkata, Telah menceritakannya kepada kami Mikhnaf bin Sulaim ia berkata, "Kami bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam saat beliau melakukan wukuf di Arafah. Kemudian beliau bersabda: "Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya bagi setiap rumah/keluarga, atau atas setiap anggota keluarga harus memberikan Adlaah (memotong qurban) dan 'Atiirah setiap tahunnya." Mikhnaf bin Sulaim berkata, "Tahukah kalian apa itu 'Atirah?" Ibnu Aun berkata, "Aku tidak tahu apa jawaban mereka waktu itu." Mikhnaf bin sulaim berkata, "(Atirah) Orang-orang mengatakan bahwa itu adalah binatang yang disembelih di bulan Rajab." (H.R.Ahmad)

Jawaban argumentasi ini adalah sebagai berikut;

Menurut Syua'ib Arna-uth Hadis di atas sanadnya Dhoif karena Abu Romlah adalah perawi yang Majhul. Seandainya bisa dijadikan hujjahpun masih belum kuat menunjukkan kewajiban berqurban karena tidak ada lafadz lugas yang menunjukkannya.

Tambahan lagi, dalam Hadis itu yang diharuskan adalah dua hal yaitu berqurban dan Atiroh (kambing yang disembelih di bulan Rajab). Padahal Hadis yang lebih shahih menegaskan bahwa Islam tidak mengenal Atiroh, tidak mensyariatkannya, dan tidak menganjurkannya apalagi sampai mewajibkannya. Bukhari meriwayatkan;

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: "Tidak ada Fara dan Atiroh." Beliau lalu jelaskan: "Fara adalah anak pertama seekor unta yang mereka sembelih untuk sesembahan mereka, dan Atirah adalah hewan (kambing) yang mereka potong di bulan Rajab." (H.R.Bukhari)

Abu Dawud juga meriwayatkan Hadis yang senada;

Dari Abu Al Malih, ia berkata; Nubaisy berkata; seorang laki-laki memanggil Rasulullah shallallahu alaihi wasallam; sesungguhnya kami dahulu menyembelih hewan pada sepuluh pertama Bulan Rajab pada masa Jahiliyah, maka apakah yang anda perintahkan kepada kami? Beliau berkata "Sembelihlah karena Allah pada bulan apa saja, dan berbaktilah kepada Allah azza wajalla, serta berilah makan!" (H.R.Abu Dawud)

Seandainya berqurban hukumnya wajib berdasarkan Hadis Ahmad di atas seharusnya Atiroh juga wajib. Namun telah diketahui bahwa Atiroh hukumnya tidak wajib.

Ketiga; perintah berqurban dalam surat Al-Kautsar digandengkan dengan perintah Shalat yang hukumnya wajib. Jadi berqurban juga wajib. Allah berfirman;

Maka dirikanlah Shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah (Al-Kautsar;2)

Jawaban argumentasi ini adalah sebagai berikut;

Jika perintah Shalat difahami sebagai perintah yang umum, maka Shalat tersebut mencakup Shalat wajib dan Shalat Sunnah. Karena itu, tidak bisa dikhususkan sebagai Shalat wajib saja. Jika difahami Shalat Sunnah, maka berarti berqurban digandengkan dengan perintah Sunnah sehingga hukumnya juga Sunnah.

Jika perintah Shalat dalam surat Al-Kautsar itu difahami sebagai Shalat Ied, maka Shalat Ied hukumnya juga Sunnah. Sehingga perintah berqurban yang menyertainya adalah perintah yang Sunnah juga.

Lagipula, tidak semua poin dalam satu ayat yang disambung dengan Harf 'Athof hukum Syara'nya sama. Sebagai contoh adalah ayat berikut ini;

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat Ihsan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan (An-Nahl; 90)

Dalam ayat ini perintah Adil hukumnya wajib. Perintah Ihsan hukumnya adalah Sunnah. Jadi tidak selalu poin-poin perintah yang di deret dalam satu ayat status hukum Syara nya sama. Status hukum Syara sebuah perintah atau larangan harus memperhatikan Qorinah-Qorinah lain dalam Nash-Nash yang lain.

Keempat; Rasulullah SAW memerintahkan Sahabat yang berqurban sebelum Shalat Ied agar mengulangi berqurban. Bukhari meriwayatkan;

Jundab bin Sufyan Al Bajali berkata; aku ikut menyaksikan Nabi shallallahu alaihi wasallam pada hari raya qurban, lalu beliau bersabda: "Barangsiapa menyembelih binatang qurban sebelum Shalat (Iedul Adha), hendaknya ia mengulangi qurbannya, dan barangsiapa belum berqurban hendaknya ia berqurban." (H.R.Bukhari)

Imam Muslim juga meriwayatkan Hadis yang semakna;

Jundab bin Sufyan dia berkata, "Saya pernah ikut hadir Shalat Idul Adha bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, tidak lama setelah selesai Shalat, beliau melihat daging qurban yang telah disembelih, maka beliau bersabda: "Siapa yang menyembelih hewan qurban sebelum Shalat, hendaknya ia mengulanginya sebagai gantinya. Dan siapa yang belum menyembelih hendaknya menyembelih dengan menyebut nama Allah." (H.R.Muslim)

Dari Hadis ini difahami, bahwa ketika Rasulullah SAW memerintahkan mengulang berqurban berarti berqurban hukumnya wajib, sebagaimana Sahabat yang disuruh mengulang Shalat ketika meninggalkan rukun Shalat.

Jawaban argumentasi ini adalah sebagai berikut;

Perintah Rasulullah SAW untuk mengulang berqurban adalah karena berqurban sebelum Shalat Ied hukumnya tidak sah, bukan menunjukkan kewajiban berqurban. Keabsahan suatu amal ibadah terkait dengan dipenuhinya Syarat dan Rukun, yang ini berbeda dengan pembahasan status wajib, Sunnah atau Mubahnya suatu perbuatan. Keabsahan ibadah adalah pembahasan kapan suatu amal bisa diharapkan diterima oleh Allah dan diganjar olehnya, sementara status wajib, Sunnah, Mubah adalah pembahasan apakah suatu perbuatan diperintahkan dengan tegas/keras/disertai ancaman, ataukan sekedar anjuran kebaikan tanpa disertai ketegasan/ancaman siksa.

Kelima; Ada Hadis yang menunjukkan Rasulullah SAW melaksanakan secara konsisten dan terus menerus ibadah qurban. Ahmad meriwayatakan;

Dari Ibnu Umar ia berkata, "Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tinggal di Madinah selama sepuluh tahun selalu menyembelih qurban." (H.R.Ahmad)

Terus menerusnya ibadah berqurban yang dilakukan Rasulullah SAW menunjukkan bahwa perbuatan tersebut adalah wajib sebagaimana Shalat lima waktu dan puasa Ramadhan yang dilakukan terus menerus.

Jawaban argumentasi ini adalah sebagai berikut;

Muhammad Abdurrahman Al Mubarokfury dalm kitabnya Tuhfatu Al-Ahwadzi mengatakan bahwa dalam sanad Hadis tersebut ada perawi yang bernama Hajjaj bin Artho-ah yang banyak melakukan kesalahan dan melakukan Tadlis. Al-Albany menilainya Dhoif ketika mentakhrij Sunan At-Tirmidzi, sebagaimana Syu’aib Arna-uth juga mendhoifkannya ketika mentakhrij Hadis dalam Musnad Ahmad.

Lagipula, merutinkan amalan masih belum kuat menunjukkan kewajiban sebagaimana Shalat Rowatib, Siwak, membaca Mu’awwidzatain juga dirutinkan Nabi namun hukumnya tidak wajib.

Keenam; Nabi memerintahkan berqurban karena berqurban adalah Sunnah Nabi Ibrahim, sementara mengikuti Millah Ibrahim hukumnya wajib. Ibnu Majah meriwayatkan;

Dari Zaid bin Arqam dia berkata, "Para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah maksud dari hewan-hewan qurban seperti ini?" beliau bersabda: "Ini merupakan sunnah (ajaran) bapak kalian, Ibrahim." Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, lantas apa yang akan kami dapatkan dengannya?" beliau menjawab: "Setiap rambut terdapat kebaikan." Mereka berkata, "Bagaimana dengan bulu-bulunya wahai Rasulullah?" beliau menjawab: "Dari setiap rambut pada bulu-bulunya terdapat suatu kebaikan." (H.R.Ibnu Majah)

Jawaban argumentasi ini adalah sebagai berikut;

Riwayat di atas tidak bisa menjadi Hujjah karena sanadnya Dhoif Jiddan. Di dalamnya ada perawi yang bernama Abu Dawud Nufai bin Al-Harits Al-A'ma Al-Kufy dan A'idzullah yang juga dinilai Dho'if.

Lagipula, mengikuti Millah Ibrohim, maksudnya adalah mengikuti dalam Tauhid. Sementara Syariat Nabi Ibrahim, bukanlah Syariat bagi umat Rasulullah SAW.

Atas dasar ini, hukum berqurban adalah Sunnah Muakkadah bukan wajib. Namun pendapat yang mewajibkan adalah pendapat yang Islami dan Syar'i untuk diikuti oleh kaum Muslimin yang sepakat dengan cara pengambilan hukumnya.

Diantara ulama yang berpendapat bahwa berqurban adalah Sunnah adalah; Suwaid bin Ghofalah, Sa'id bin Al-Musayyab, Alqomah, Al-Aswad, Atho, As-Syafi'i, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, Ibnu Al-Mundzir, Abu Yusuf, Al-Muzany, Dawud, An-nawawy, dan Asyhab.

Diantara ulama yang berpendapat bahwa berqurban adalah wajib adalah; Abu Hanifah, Malik, Robi'ah, Ats-Tsaury, Al-Auza'y, Al-Laits , sebagian riwayat dari Ahmad, dan Ibnu Taimiyah.

 

Artikel Lainnya

1 Komentar

sayang
25 Juni 2014 - 20:05:17 WIB

ijinkan saya meninggalkan jejak komentar di web ini.,mohon maaf bila komentar saya kurang berkkenan,di hati anda
http://cinta009.blogspot.com/
Hal: « Last « Previous 1Next » First »

Isi Komentar

Masukan nama

website anda

Isi Komentar

Masukkan 6 kode diatas

BMI Calculator
  • Hitung BMI Anda
  • Berdasarkan Depkes RI
    Kurus:
    - Kekurangan BB tingkat berat = <17
    - Kekurangan BB tingkat ringan = 17 - 18,4
    - Normal = 18,5 - 25
    Gemuk:
    - Kelebihan BB tingkat ringan = 25,1 - 27
    - Kelebihan BB tingkat berat = >27

  • Berdasarkan WHO
    - Underweight grade III = <16
    - Underweight grade II = 16 - 16,9
    - Underweight grade I = 17 - 18,4
    - Underweight = 18,5 - 19,9
    - Acceptable = 20 - 24,9
    - Overweight = 25 - 29,9
    - Obesity I = 30 - 34,9
    - Obesity II = 35 - 39,9
    - Obesity III = > 40
  • Body Mass Index (BMI) atau dalam bahasa Indonesia disebut Index Masa Tubuh (IMT) merupakan metode paling praktis dalam menentukan berat badan, apakah termasuk Underweight (kurang), normal, Overweight (kelebihan berat badan) atau kegemukan (Obesitas).

Government Project

Browser yang sering anda gunakan?

Mozilla firefox
Internet Explorer
Crome
Safari
Opera

Lihat Hasil Poling

1552698

 Pengunjung hari ini Pengunjung hari ini : 435
 Total pengunjung Total pengunjung : 404474

 Hits hari ini Hits hari ini : 1334
 Total Hits Total Hits : 1552698

 Online Online    : 4
 ip IP            : 54.87.134.127
 Proxy Proxy      : -
 browser Browser : Opera Mini