Hukum Berqurban

Selasa, 23 Oktober 2012 - 21:23:54 WIB
Diposting oleh : htv | Kategori: One Stop | Dibaca: 598 kali
Qurban

Hukum berqurban adalah Sunnah Muakkadah, bukan wajib. Hal-hal yang menunjukkan kesunnahannya adalah argumentasi-argumentasi berikut ini;

Pertama; Allah memerintahkan berqurban dalam Al-Qur’an. Allah berfirman;

Maka dirikanlah Shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah (Al-Kautsar;2)

Perintah Shalat dalam ayat di atas bersifat umum, mencakup Shalat wajib dan Shalat Sunnah sehingga tercakup pula Shalat 'Idul Fitri' dan 'Idul Adha'. Perintah berqurban juga bersifat umum yang mencakup qurban wajib, seperti Al-Hadyu karena Haji Tamattu' maupun qurban Sunnah seperti Udhiyah yang dilakukan kaum Muslimin di luar tanah suci (Mekah). Karena itu, ayat ini menjadi dalil perintah berqurban, yang menunjukkan adanya dorongan dari pembuat Syariat sehingga digolongkan dalam amal yang bernilai Ma'ruf.

Kedua; perbuatan Rasulullah SAW menunjukkan beliau melakukan dan mengamalkan amal berqurban. Bukhari meriwayatkan;

Dari Anas dia berkata; Nabi shallallahu alaihi wasallam berqurban dengan dua ekor domba yang warna putihnya lebih dominan di banding warna hitamnya, dan bertanduk, beliau menyembelih domba tersebut dengan tangan beliau sendiri sambil menyebut nama Allah dan bertakbir dan meletakkan kaki beliau di atas sisi leher domba tersebut. (H.R.Bukhari)

Perbuatan Rasulullah SAW sebagai mana ucapan beliau dan sikap diam beliau adalah dalil Syara'. Ketika Rasulullah SAW melakukan aktivitas berqurban, dan mencontohkan pada umatnya, maka hal ini menguatkan dalil pertama bahwa berqurban adalah amal yang didorong oleh Syariat dan digolongkan sebagai perbuatan yang Ma'ruf. Rasulullah SAW juga pernah memerintahkan seorang Sahabat berqurban, misalnya dalam hadis berikut ini;

Dari 'Uqbah bin Amir Al Juhani' dia berkata; Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah membagi-bagikan binatang qurban kepada para sahabatnya, sementara Uqbah sendiri hanya mendapatkan Jadza'ah (kambing yang berusia enam bulan, atau berumur empat tahun ke atas, atau sapi berumur tiga tahun ke atas), maka kataku selanjutnya; "Wahai Rasulullah, aku hanya mendapatkan Jadza’ah?" beliau bersabda: "Berqurbanlah dengannya." (H.R.Bukhari)

Beliau juga memuji penyembelihan hewan qurban yang dilakukan setelah Shalat 'Ied dan mensifatinya sebagai Ibadah yang sempurna. Bukhari meriwayatkan;

Dari Al Bara', bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa menyembelih (hewan qurban) setelah Shalat (Ied) maka ibadah qurbannya telah sempurna dan dia telah melaksanakan sunnah kaum Muslimin dengan tepat." (H.R.Bukhari)

Nash-Nash ini menguatkan bahwa ibadah berqurban memang diperintahkan, dicontohkan, dan dipuji sebagai salah satu ibadah dalam Syariat Islam.

Ketiga; Rasulullah SAW mengaitkan aktivitas berkurban dengan Irodah (kehendak/keinginan) Mukallaf. Imam Muslim meriwayatkan;

Dari Ummu Salamah bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Jika telah tiba sepuluh (dzul Hijjah) dan salah seorang dari kalian hendak berqurban, maka janganlah mencukur rambut atau memotong kuku sedikitpun." (H.R.Muslim)

Jika pada argumentasi pertama dan kedua penunjukan makna yang bisa ditangkap barulah adanya dorongan dan teladan untuk berqurban (yang masih belum menjelaskan apakah dorongan tersebut bersifat tegas//\pasti/keras ataukah tidak), maka pada argumentasi yang ketiga ini, sifat dorongan tersebut menjadi diketahui. Rasulullah SAW mengaitkan ibadah berqurban dengan Irodah/kehendak Mukallaf, bukan menetapkan tanpa memberi pilihan. Oleh karena itu Hadis ini menunjukkan bahwa berqurban hukumnya adalah Sunnah, bukan Wajib. Karena jika berqurban hukumnya wajib, niscaya Nabi tidak akan mengaitkannya dengan kehendak Mukallaf, kerana sesuatu yang wajib harus dilaksanakan tanpa pilihan.

Keempat; Rasulullah SAW mendiamkan umatnya yang tidak berqurban tanpa mengkritiknya atau mencelanya. Abu Dawud meriwayatkan;

Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata; saya menyaksikan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam Shalat Idul Adha di lapangan, kemudian tatkala menyelesaikan khutbahnya beliau turun dari mimbarnya, dan beliau diberi satu ekor domba kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyembelihnya, dan mengucapkan: "BISMILLAAHI WALLAAHU AKBAR, HAADZA ‘ANNII WA ‘AN MAN LAM YUDHAHHI MIN UMMATI" (Dengan nama Allah, Allah Maha Besar, ini (qurban) dariku dan orang-orang yang belum berqurban dari umatku). (H.R.Abu Dawud)

Dalam Hadis di atas Rasulullah SAW berqurban untuk dirinya dan juga untuk umatnya yang belum berqurban. Penyebutan lafadz;

dan orang-orang yang belum berqurban dari umatku

Menunjukkan diantara umatnya ada yang belum berqurban. Penyebutan ini tidak disertai kritikan, celaan, apalagi ancaman terhadap mereka. Karena itu, Hadis ini semakin menguatkan bahwa berqurban hukumnya Sunnah, bukan wajib.

Kelima; sejumlah Shahabat sengaja tidak berqurban untuka mengajari kaum Muslimin dan generasi sesudahnya bahwa berqurban hukumnya tidak wajib.

Baihaqi meriwayatkan bahwa Abubakar dan Umar sengaja tidak berqurban agar tidak diduga bahwa berqurban hukumnya wajib.

"As-Syafi’I berkata: Telah sampai kepada kami bahwa Abu Bakar dan Umar tidak berqurban karena tidak suka diteladani sehingga orang yang melihat beliau berdua menduga bahwa berqurban itu wajib" (H.R. Baihaqy)

Cukup jelas dalam riwayat di atas bahwa Abubakar dan Umar sengaja meninggalkan berqurban karena tidak suka jadi teladan yang disangka orang bahwa berqurban hukumnya wajib.

Memahami bahwa Abubakar dan Umar tidak berqurban karena beliau berdua tidak termasuk Mukallaf yang wajib melakukan berqurban sulit diterima, karena dalam lafadz riwayat jelas sekali disebutkan alasan tidak berqurban, yaitu untuk memberi pemahaman kepada kaum Muslimin (termasuk generasi dibelakang) bahwa berqurban itu tidak wajib. Tidak bisa pula difahami bahwa alasan Abubakar dan Umar meninggalkan berqurban adalah karena masyarakat umum memandang wajibnya berlaku umum tanpa membedakan antara yang mampu dengan yang tidak. Alasan ini sulit diterima karena sama sekali tidak dinyatakan dalam lafadz riwayat. Yang ada dan cukup jelas adalah, beliau berdua meninggalkan berqurban karena khawatir berqurban itu dianggap wajib dari segi kewajiban itu sendiri, bukan khawatir pemahaman wajib yang mutlak meski tidak mampu. Lagipula alasan ini perlu ditinjau ulang dari segi bahwa Syariat tidak mungkin mewajibkan sesuatu kepada Mukallaf sesuatu yang ia tidak mampu melakukannya. Misalnya Haji yang jelas wajib. Syara' membebaskan bagi yang tidak mampu untuk tidak melakukannya.

Diantara Shahabat lain yang meninggalkan berqurban karena kahwatir dianggap wajib adalah Abu Mas’ud Al-Anshory. Baihaqy meriwayatkan;

"Dari Abu Mas’ud Al-Anshory beliau berkata: sesungguhnya aku meninggalkan berqurban padahal aku kaya, hanya karena khawatir tetanggaku melihat bahwa hal tersebut adalah keharusan bagiku" (H.R. Baihaqy)

Ibnu 'Umar berfatwa, bahwa berqurban adalah Sunnah dan Ma'ruf. Bukhari meriwayatkan secara Mu'allaq dengan Shighot Jazim (tegas);

"Bab Sunnahnya berqurban. Ibnu Umar berkata; Berqurban itu Sunnah dan Ma'ruf" (H.R.Bukhari)

Demikian pula Ibnu Abbas yang memerintahkan membeli daging untuk dibagi-bagikan, bukan berqurban dengan hewan secara langsung. Baihaqy meriwayatkan;

"Dari Ibnu Abbas bahwasanya beliau duduk-duduk dengan para muridnya. Kemudian beliau mengirimkan dua Dirham dan berpesan; belilah daging dengan uang itu kemudian katakan: ini adalah qurban Ibnu Abbas" (H.R.Baihaqy)

Menurut Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla, tidak ada satupun riwayat Shahih yang menunjukkan bahwa ada Sahabat yang mewajibkan berqurban. Ibnu Hazm berkata;

Tidak ada riwayat shahih dari seorang Sahabatpun bahwa berqurban hukumnya wajib. Adapun riwayat yang tegas mengatakan bahwa berqurban wajib bagi Rasulullah SAW dan Sunnah bagi umatnya, yakni seperti riwayat berikut ini;

Dari ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: Ada tiga hal yang wajib bagiku dan Sunnah bagi kalian: Berqurban, Shalat Witir, dan dua rokaat Shalat Sunnah Fajar” (H.R.Ad-Daruquthni)

Maka riwayat ini tidak bisa dijadikan sebagai Hujjah karena termasuk riwayat yang Dhoif.

 

Artikel Lainnya

1 Komentar

kata2 cinta
25 Juni 2014 - 20:03:24 WIB

selamat malam gan,saya sangat senang sekali bisa ikutan hadir membaca berita ini,ulsan beritanya mantapp sekali
http://cinta009.blogspot.com/
Hal: « Last « Previous 1Next » First »

Isi Komentar

Masukan nama

website anda

Isi Komentar

Masukkan 6 kode diatas

BMI Calculator
  • Hitung BMI Anda
  • Berdasarkan Depkes RI
    Kurus:
    - Kekurangan BB tingkat berat = <17
    - Kekurangan BB tingkat ringan = 17 - 18,4
    - Normal = 18,5 - 25
    Gemuk:
    - Kelebihan BB tingkat ringan = 25,1 - 27
    - Kelebihan BB tingkat berat = >27

  • Berdasarkan WHO
    - Underweight grade III = <16
    - Underweight grade II = 16 - 16,9
    - Underweight grade I = 17 - 18,4
    - Underweight = 18,5 - 19,9
    - Acceptable = 20 - 24,9
    - Overweight = 25 - 29,9
    - Obesity I = 30 - 34,9
    - Obesity II = 35 - 39,9
    - Obesity III = > 40
  • Body Mass Index (BMI) atau dalam bahasa Indonesia disebut Index Masa Tubuh (IMT) merupakan metode paling praktis dalam menentukan berat badan, apakah termasuk Underweight (kurang), normal, Overweight (kelebihan berat badan) atau kegemukan (Obesitas).

Government Project

Browser yang sering anda gunakan?

Mozilla firefox
Internet Explorer
Crome
Safari
Opera

Lihat Hasil Poling

1152341

 Pengunjung hari ini Pengunjung hari ini : 35
 Total pengunjung Total pengunjung : 317186

 Hits hari ini Hits hari ini : 587
 Total Hits Total Hits : 1152341

 Online Online    : 7
 ip IP            : 54.82.4.58
 Proxy Proxy      : -
 browser Browser : Opera Mini